Minggu, 02 September 2012

Bidadariku, kamu..


 Pagi yang cerah telah mengawali hari ini, pertanda baik menurutku. Aku yakin hari ini akan jadi hari baik untukku, entahlah. Bahkan sang mentari juga turut berpartisipasi dalam memulai hari yang indah ini dengan sinar terangnya yang memberi kehidupan bagi semua makhluk hidup dibumi.
Burung-burung berkicau merdu menemani langkah kaki kecilku menuju sebuah gedung besar yang sejak 2 tahun terakhir ini menjadi tempat untukku belajar, menuntut ilmu demi menggapai cita-cita.
Aku Rei, lebih tepatnya lagi Reinata Kusuma. Seorang gadis yang menurutku tidak terlalu cantik namun, tidak juga terlalu jelek. Aku gadis keturuan Indo-Jepang, jadi wajar saja kalau warna kulitku sedikit berbeda dengan gadis-gadis remeja di Indonesia.
“Ini makanan buat kak Evan.” Kata seorang gadis manis dengan rambut yang dikepang dua, ia menundukkan kepalanya malu sambil menjulurkan kedua tangannya yang memegang sebuah kotak bekal berisi nasi goreng beserta telur ceplok buatannya sendiri.
Aku berhenti melangkahkan kaki, melihat dan mengamati apa yang sedang terjadi ditengah-tengah jalanku menuju kelas. Dia Evan Wijaya, lelaki jangkung dan tampan yang menjadi idola semua gadis disekolahku. Dan, lelaki yang sejak beberapa minggu yang lalu senang sekali hadir disetiap mimpi indahku serta berlari-lari riang diingatanku. Kulihat dia hanya tersenyum kecut tanpa pergerakkan yang berarti. Tak jauh beda dengan 2 orang yang berdiri dibelakangnya, mereka hanya memandang sinis gadis berkacamata itu dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana masing-masing.
Aku melirik tupperware biru muda yang ada ditangan kananku, hanya ada 2 potong sandwich seperti biasa didalamnya. Kenapa biasa? Ehm, karena memang setiap paginya aku selalu memberikan kotak bekal berisi sandwich  untuknya, untuk Evan. Sudah menjadi rutinitas tersendiri untukku.
Aku menghela nafas pelan, mungkin kali ini aku harus mengalah dan membiarkan Evan menikmati bekal yang diberikan gadis manis itu. Dengan perlahan kumasukkan kembali kotak bekal itu kedalam tasku, biarlah untukku saja bekal ini. lumayan kan untuk dimakan pas jam istirahat nanti.
“Minggir!!!” sentak Nuel, Seorang cowok bermata sipit yang berada tepat disebelah kanan Evan.
Gadis itu tak bergerak, ia masih setia menunduk, mengacuhkan sentakkan keras dari Nuel tadi. Takut mungkin? Atau ia gugup karena berhadapan langsung dengan 3 cowok tampan yang famous banget diSMA ini.
“Minggir!!” lagi, satu kata itu terdengar jelas ditelingaku dan kali ini Evan-lah yang mengeluarkan suaranya. huhh, aku sudah hafal betul dengan suaranya cowok tampan satu itu.
“Terima kasih ya buat bekalnya.” Aku menyambar cepat tupperware pink dengan gambar Winnie The Pooh dipenutup wadah bekalnya itu. Tangan gadis itu mulai bergetar, sangat gugup sepertinya. Harus kuakui kalau wajah sahabat-sahabatku ini memang sangat mengerikan saat mereka kesal.
Gadis itu mengangkat wajahnya untuk melihatku, aku tersenyum agar dia tidak terlalu merasa tegang. “Jangan bosen ya buatin bekal buat sahabat-sahabat kakak.” Kataku lembut sambil mengusap pelan kepalanya.
Ia mengangguk cepat, penuh semangat sepertinya. Senyuman manispun tak pernah pudar dari wajahnya saat ia berpamitan untuk kembali kekelasnya.
Aku berbalik melihat ketiga cowok tampan itu, mereka langsung mengalihkan pandangannya sambil bersiul-siul ria seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Dan lagi aku menghela nafas pelan lalu mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabat-sahabatku itu. “Habisin!!! Awas ya kalau loe nggak mau menghabiskannya!!” ancamku sambil memberikan tupperware pink itu ketangan Evan dan berlalu pergi.
Baru 3 langkah aku melaju, cengkraman kuat sudah begitu terasa dipergelangan tanganku, membuat aku terpaksa menghentikan langkah dan kembali menoleh kebelakang.
“Lepasin!” bentakku setelah mengetahui tangan siapa yang mencengkram erat pergelangan tangan kananku.
“Nggak mau, Berikan dulu!!” katanya sambil menengadahkan tangan kirinya, seolah meminta sesuatu.
 “Apa?” tanyaku tak mengerti, Apa lagi yang mau diberikan?? Dasar cowok aneh!!!
“Ya bekal buat gue-lah.” Jawabnya singkat sambil menatapku tajam.
Huhh, tatapannya setajam elang, kenapa aku baru menyadarinya yah? Ck, dasar bodoh! Rutukku dalam hati, semoga dia tidak mendengar suara jantungku yang berdetak tak normal ini.
“T-tadi kan udah, loe pikun ya?” Aku menundukkan kepala, tak berani menatap matanya. Aku baru mengerti sekarang, ternyata perasaan inilah yang dirasakan gadis-gadis itu saat Evan menatap mereka, pantas saja!
“Gue nggak mau bekal itu, gue cuma mau bekal yang loe bawa!”
“Nggak ada!” kataku menghempaskan tangannya, terlepaskah? Tentu saja lepas, tapi hanya bertahan sebentar, pria jangkung itu malah kembali menggenggam tanganku bahkan lebih erat dari yang tadi. Kuat sekali tenaganya, Apa selama ini dia sering makan makanan kuda? Huh, sekuat apapun aku berontak tenagaku ini takkan mampu menandingi tenaganya.
Dengan cepat ia meraih tasku dan otomatis melepaskan cengkraman tangannya. “Evan!!! apa yang loe lakuin?” tanyaku saat melihatnya mengobrak-abrik isi tasku.
“Ketemu.” Ucapnya tersenyum senang. Apa yang ia temukan? ekspresi wajahnya sungguh berlebihan sekali, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan es krim!. “Loe!!” sentaknya terhadapku.
“A-apa?” balasku sok-sokan berani menatapnya.
“Jangan coba-coba bohongin gue lagi!” perintahnya yang kemudian berlalu pergi.
“Hah? yang benar saja!!” desisku sebal, seenaknya saja laki-laki jangkung itu memerintahku.
Aku melirik kedua sahabatku –Nuel & Bintang- yang tengah menahan tawanya melihat
mulutku komat-kamit nggak jelas. “Apa??” gertakku.
Mereka tersenyum kikuk, lalu menggeleng cepat dan mengangkat tangan kanannya membentuk  huruf ‘V’ dengan jari manis dan telunjuknya. “peace Rei!” ucap mereka berdua kompakan kemudian berlari kecil menyusul langkah Evan. “ck!! Kalian bertiga sungguh menyebalkan!!!”

***
Setelah 3 jam lamanya mendengarkan penjelasan Pak Anton, sang guru killer. Akhirnya bel tanda istirahat berdering juga. Semua teman-teman sekelasku langsung berhambur keluar kelas, kecuali aku dan ketiga sahabatku serta seorang murid baru. Namanya Tari. Rambutnya hitam panjang dan sedikit bergelombang, tubuhnya juga langsing walaupun badannya tak terlalu tinggi. Saat ia masuk kedalam kelas pada jam pelajaran kedua tadi, semua mata kaum adam langsung tertuju padanya. Tentu saja ketiga sahabat baikku itu juga ikut menatap kagum gadis cantik itu.
Saat melihat Evan juga ikut memperhatikan Tari, ada perasaan aneh yang bergejolak dalam hatiku, entahlah i don’t know. Aku juga ikut memperhatikan gadis cantik itu, sekedar membuat perbandingan antara aku dan dia. Harus kuakui, gadis ini sedikit lebih baik dari pada aku.
“Cantik ya.” kataku setelah berhasil duduk ditengah-tengah kedua sahabatku -Nuel & Bintang-, Keduanya langsung mengangguk setuju. “Hmm, kalau gitu deketin dong! entar keduluan orang lain loh.” Godaku menyenggol pelan lengan kanan Nuel dan lengan kiri Bintang dengan lenganku.
Mereka berdua menatapku secara bersamaan sambil tersenyum, sedetik kemudian mereka berdua beranjak dari duduknya menuju Tari, sang gadis cantik yang tengah sendiri menanti pangeran-pangeran tampan datang menggodanya.
 “Van?” panggilku saat mengetahui cowok yang duduk disebelah Nuel tadi sama sekali tak bergerak. Laki-laki itu menoleh kearahku dengan tatapan tajam yang seolah berkata ‘APA?’ tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya.
Ditatap seperti itu, aku jadi gelagapan sendiri. Untung saja aku masih bisa mengendalikan perasaanku dan dengan cepat menjawab tatapannya. “emm..kenapa diam? Sana susul Nuel dan Bintang!”
Evan mengalihkan pandangannya kedepan, melihat Nuel & Bintang yang sudah terlebih dahulu mendekati gadis cantik itu. ia tersenyum simpul lalu menggeleng pelan.
Aku menatapnya bingung, kenapa? bukannya dari tadi dia juga ikut memperhatikan Tari, lalu kenapa sekarang dia diam saja. Benar-benar lelaki aneh!
“gue nggak mau.” Katanya beranjak pergi keluar dari kelas setelah berhasil mengacak-acak poniku.
Ckck!! Laki-laki satu ini, kenapa jadi menyebalkan sekali sih? Rambutku jadi berantakan karenanya.
“Hei!! Tunggu!!” aku berlari mengejarnya, berusaha mensejajarkan langkahku dengan langkah Evan yang besar-besar itu. “kenapa nggak mau?” lanjutku bertanya.
“Gue nggak mau aja.”
“ya kenapa? kenapa nggak mau?? Tari itukan tipe loe banget, cantik kayak bidadari.”
Evan tersenyum tipis, lalu merangkul bahuku.
“Dikasih 100 orang bidadari kayak Tari juga gue nggak mau kok, cukup dengan 1 bidadari cantik yang dari dulu selalu ada disamping gue. Bidadari yang lebih segalanya dari pada bidadari manapun.”
Aku diam terpaku, apa yang baru saja dikatakannya? apa aku tidak salah dengar? “maksudmu?”
Dia kembali tersenyum, namun kali ini lebih lebar dari yang tadi. Aku merasakan rangkulannya semakin erat dibahuku. “Reina...” panggilnya pelan.
“ya” jawabku tak berani melihatnya.
“aku.” Dia berbisik tepat ditelingaku seolah tak ingin ada orang lain yang mendengar apa yang ingin ia katakan padaku. “mencintaimu Rei.”
Apa yang barusan dia bilang? Apa? Aku, apa aku tak salah dengar? Dia...mencintaiku? apa benar? Dan aku merasakan jantungku kembali berpacu lebih cepat dari biasanya. Haaah.. aku ingin berteriak senang mendengar pernyataan Evan barusan. Ada apa dengan diriku ini, Tuhan?. Gosh!!! sepertinya pipiku memerah karena tersipu malu sedangkan Evan hanya terkekeh melihat aku yang mulai salah tingkah.
“Ayo, temani aku makan dikantin. Sekalian merayakan hari jadian kita.”
“Apa? Jadian?”

-----------------------------------------END-------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar